... Kadang kita terlalu serakah, maunya semua dikuasai saat ini juga, tapi lupa kalau kita manusia. ...
Jika kamu membaca postingan ini dengan mengira saya akan memberimu kiat-kiat rahasia agar bisa menguasai Matematika dalam waktu yang singkat, maka harus saya tegaskan bahwa kamu 100% keliru. Postingan ini tidak akan membahas siasat belajar yang tepat maupun amalan-amalan mistis yang akan membuat otakmu seketika ditempeli roh-roh cendekiawan ternama di masa lampau. Sebab, sama seperti banyak orang lainnya yang—secara terang-terangan ataupun tidak—mendeklarasikan permusuhannya kepada hal-hal berbau Matematika, saya pun belum mampu "membujuk" Matematika agar mau berkawan akrab dengan saya.
Sama sekali tidak masuk akal. Karenanya harus saya akui, judul postingan ini memang terkesan agak clickbait. Tetapi walau terdengar amat tidak masuk akal, suatu ketika saya pernah melontarkan hal tersebut sebagai gurauan kepada Bapak yang memang sejak muda banyak mengulik ilmu-ilmu perhitungan dan kelistrikan—berbanding teramat terbalik dengan saya. Lalu, apa yang saya dapat sebagai jawaban? Selayaknya gurauan yang mungkin sudah biasa didengarnya di warung kopi, Bapak menertawakan ucapan saya.
Namun, sejurus kemudian dijelaskannya sembari melepas kacamatanya, "Namanya belajar—apapun pelajarannya—itu ya nggak mungkin cuma sebentar lalu simsalabim-mendadak-ahli."
"Apapun ilmunya, apapun skill yang dipelajari, kalau atine kemrungsu, ilmu itu nggak bakal bisa masuk (ke otak). Nggak bisa dia (ilmu) masuk kalau hatinya aja masih penyakitan, banyak buruk sangka, sombong, iri, dengki. Kadang kita terlalu serakah, maunya semua dikuasai saat ini juga, tapi lupa kalau kita manusia. Punya limit. Tanganmu berapa? Cuma dua, kan? Nggak perlu semua pelajaran dikuasai, pilih aja kamu mau fokus yang mana."
Saya percaya bahwasanya hati dan otak akan selalu saling terhubung. Bila hati sudah menutup gerbang, tak mungkin ada yang bisa masuk untuk menjangkau otak. Termasuk ilmu. Semakin banyak titik-titik hitam yang berasal dari penyakit hati yang menempel, akan semakin mengeras pula hati itu hingga tak bisa lagi ditembus.
Namun, rasanya memang sangat mustahil untuk bisa benar-benar memiliki hati yang murni tanpa setitik pun kotoran. Tapi bukan tak mungkin titik-titik itu perlahan dikurangi jumlahnya jika saja kita bisa lebih sering membersihkannya agar titik-titik hitam tersebut tak semakin banyak menumpuk dalam hati. Lantas penuhilah hati itu dengan banyak kebaikan, isilah ruang-ruang kosong itu untuk mengingat tuhanmu sampai tak sedikitpun ruang tersisa untuk ditempeli setitikpun kotoran.
Tentu, hati ini berbeda halnya dengan barang. Ia hidup. Dan tentu untuk membersihkannya tidaklah semudah membersihkan barang secara fisik. Tapi tahan dulu, tidak perlu terburu-buru menekan tombol exit. Saya tidak akan serta-merta menuangkan teks khotbah yang memintamu untuk beribadah lebih sering atau lain semacamnya. Masih ada banyak hal lain yang harus kita selesaikan sebelum melangkah ke tahap 'memperbanyak ibadah'.
Salah satunya adalah dengan menerima segala pemberian Tuhan, sekalipun itu sesuatu yang terlihat 'kurang menguntungkan' bagi saya. Kita tentu tahu betapa murah hati sang Maha Kuasa, tetapi seringkali kitalah yang tak bisa menerima apa-apa yang diberikanNya dalam hidup dengan dalih "Mengapa aku hanya dapat ini, bukan seperti yang Kauberi padanya?". Lagi-lagi, manusia memang banyak mau meski Tuhan lebih tahu.
Dengan menerima apa-apa yang diberi Tuhan, kita bisa menggunakan dan mengelolanya sebagai senjata dalam hidup. Sehingga tak perlu lagi risau menyoal perbedaan "senjata" yang Tuhan berikan, sebab "senjata" itu sudah diberi menurut peruntukannya dalam hidup kita—yang jelas-jelas tak sama dengan apa yang dilalui orang lain dalam hidupnya. Sejalan dengan itu, kita tak akan lagi memandang pemberian itu sebagai baik atau buruk maupun bagus atau jelek yang akan menjadikan kita sebagai penerimanya lebih 'beruntung' atau lebih 'tidak beruntung'.
Tetapi jika pemberian itu masih terasa percuma karena kamu merasa tak bisa mendapatkan manfaat darinya, maka perlu adanya evaluasi atas penggunaan dan pengelolaan "senjata" tersebut. Barangkali cara kita menggunakan dan mengelolanya belum tepat, cobalah luangkan waktu di sela-sela ramainya pikiranmu untuk bertanya padaNya yang lebih tahu.
Komentar
Posting Komentar