
Bukannya takdir kita udah ditulis jauh sebelum ini?
Sekali waktu, saya pernah sampai pada pertanyaan semacam ini dalam perbincangan tengah malam melalui GoogleMeet dengan beberapa orang kawan.
Temu maya malam itu mulanya kami agendakan untuk berlatih sekaligus membahas beberapa soal ujian, lalu di-extend hingga larut demi menghibur salah seorang dari kami yang tengah putus cinta karena belakangan ini rupanya perasaannya tak berbalas, walaupun pada akhirnya kami jadi ngoceh ngalor-ngidul sampai ke rencana hidup kami masing-masing usai tamat dari sekolah—di samping memberinya petuah soal cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.
Kemudian, sampailah kami pada topik jodoh yang lagi-lagi diinisiasi karena kawan kami itu masih belum bisa merelakan cintanya—yang pernah diusahakannya hingga menempuh ratusan kilometer dari perantauannya—yang baru kandas.
Salah nggak, sih, kalau aku masih berdoa minta dijodohkan, walaupun mungkin takdirnya nggak begitu?
Pertanyaan itu dilontarkan dengan sedikit nada yang menyiratkan ketidakberdayaan, lalu ditambahnya dengan mencontohkan pasangan yang bercerai dari pernikahan sebagai anomali dari konsep "ditakdirkan berjodoh" tadi. Soal doa, kami tentu bersepakat tak ada yang salah dengan berdoa, sebab takdir dan doa bisa saja saling mendahului. Juga soal jodoh yang kami sepakati belum tentu hanya satu sepanjang hayat, sebab bila masanya telah habis, bercerai pun bisa jadi bukti bahwa mungkin saja pasangan itu hanya berjodoh di masa itu dan bisa jadi berjodoh dengan orang lain lagi di masa yang lain.
Lantas, kami saling mempertanyakan soal cara kerja takdir pada kehidupan sehari-hari yang setiap perilakunya akan diganjar balasan di hari akhir—yang tentunya diingatkan salah seorang dari kami bahwa akal manusia memang tak akan sampai pada konsep takdir itu, dengan menyitir ucapan mamanya.
Benar saja, dari berbagai opini dan kemungkinan yang kami diskusikan itu tak ada yang bisa disimpulkan. Bisa jadi, takdir kita memang ditulis lengkap dari awal hingga akhir, tetapi secara amat luas bak pohon yang beribu cabang dengan luasnya pengetahuan-Nya sehingga kami sebagai manusia masih diberi secuil kuasa atas diri kami untuk memutuskan melakukan apa pun sebelum akhirnya diganjar pahala dan dosa atas hal-hal yang kami pilih itu. Bisa jadi pula, setiap hal yang terjadi di atas muka bumi, termasuk seorang manusia berbuat pahala maupun dosa, adalah atas keinginan dan sepengetahuan-Nya—termasuk juga seorang manusia dimasukkan dalam surga atau neraka.
Untuk opsi kedua, saya sempat berpikir bagaimana kemungkinan itu terdengar seperti manusia dengan segala takdirnya hanyalah mainan bagiNya yang berkuasa, sekalipun menurut ilmu-ilmu modern saat ini manusia memiliki free will atas kehidupannya yang membedakannya dari hewan yang tak diganjar pahala atau dosa atas perbuatannya.
Namun, sebagaimana manusia menghamba hingga jadi budak cinta (bucin), bukankah manusia memang diciptakan untuk menghamba? Untuk rela segenap hati, atas apapun keinginan Tuhannya, bahkan sekali pun kita dipermainkan hanya karena besar kuasa-Nya. Sebab bagaimanapun, cinta kita pada-Nya mestilah lebih besar dari cinta kita pada apapun di dunia.
Komentar
Posting Komentar