Langsung ke konten utama

Remahan Angan di Depan Pintu Wakasek

Semoga sukses, Mba Ama. Selamat ya ...

Dahulu, sebelum berkelana sampai kota orang, mimpi saya sederhana: hidup sesantai dan semudah mungkin, masuk sekolah negeri di kabupaten, lalu dapat undangan di kampus medioker setempat selepas SMA dan menjalani sisa hidup yang tenang di kabupaten sebagai bukan siapa-siapa dengan orang tua yang sudah pensiun.

Dengan tujuan seremeh itu, saya berangkat ke suatu kabupaten di Jawa Tengah tanpa tahu apa-apa dan diterima begitu saja di sekolah negeri yang bukan sekolah favorit di kabupaten itu dengan senang hati, sebab sekolah mana pun sama saja bagi saya saat itu. Kemudian, misi selanjutnya hanyalah belajar sebaik mungkin untuk bertahan di sana hingga kelulusan tiba.

Namun, rupanya bukan saya seorang yang berpikir begitu. Ada banyak orang yang juga menjalani masa SMA-nya dengan menginginkan segala kemudahan itu dalam hidup untuk sekadar tetap hidup tanpa mimpi-mimpi muluk, bahkan hingga rela mencari segala macam jalan pintas yang juga sama mudahnya agar tak perlu berusaha lebih.

Rupanya segalanya takkan semudah itu sekalipun hanya untuk mengusahakan mimpi seremeh ini. Saya sampai di persimpangan yang membingungkan: mengikuti arus dengan melalui jalan pintas, atau bertahan dengan mencari jalan lain yang lebih panjang. Pada akhirnya, saya memilih yang kedua dengan berpegang pada nilai-nilai yang saya pegang dalam hidup.

Ketika itu, saya menemukan unggahan-unggahan Pusat Prestasi Nasional usai memutuskan mencari sertifikat dari kompetisi-kompetisi nasional untuk memperbesar peluang daripada mencurangi satu sama lain dalam ujian-ujian semesteran. Hanya saja, saya sama sekali tak tahu harus mulai dari mana. Ini mulai melenceng dari rencana awal dan sama sekali tak pernah saya persiapkan.

Kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional itu mulanya saya pikir akan mudah diikuti karena dibuka untuk umum oleh Kementerian Pendidikan, tetapi rupanya sekolah saya saat itu tak peduli-peduli amat sekalipun penyelenggaranya pemerintah dan keikutsertaannya tak dibebankan biaya sedikit pun. Pembukaan kegiatan sudah semakin dekat, maka saya harus segera bergerak walaupun sekolah belum juga mengumumkan apa-apa.

Mencetak proposal kegiatan dari laman resmi hingga ke sana ke mari untuk bertanya dan menawarkan diri saya lakukan tanpa tahu malu, lantas seorang guru memberi saya kesempatan itu. Pada akhirnya, saya berhasil mengikuti seleksi nasional kompetisi tersebut dengan segala jungkir baliknya, walaupun setelahnya nama saya tak pernah masuk daftar peserta yang lolos di tahun itu.

Selain kegagalan pertama saya, segalanya di tahun itu berjalan semestinya. Saat itu saya akhirnya mengerti, tak semua sekolah sama mengingat bagaimana jungkir balik saya sebelumnya hanya untuk menjelaskan dan meminta izin sekolah agar bisa jadi perwakilan di kompetisi yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan itu, sedangkan di tempat lain siswalah yang diberitahu sekolahnya dan dikirim sebagai perwakilan untuk kompetisi nasional semacam itu. Guru itu lalu tetap mengajar kami di tahun selanjutnya—yang kemudian saya manfaatkan untuk membujuknya mengizinkan saya ikut kompetisi yang sama dengan tahun lalu dan serta merta diiyakan olehnya, bahkan sebelum saya beri tahu lebih lanjut soal karya yang akan saya sertakan kali ini. Bahkan kemudian menawarkannya lebih dulu pada saya di tahun berikutnya ketika saya sendiri sudah tahu: saya sudah tak lagi punya kesempatan di ajang itu karena tak lagi memenuhi kriteria.

Setelah kegagalan pertama saya, saya masih tak percaya bagaimana seseorang—yang bahkan tak kenal saya secara pribadi dan hanya pernah bicara di kelas sesekali untuk izin ke kamar mandi—bisa begitu yakinnya dengan hal-hal yang sedang dan akan saya lakukan walaupun saya sendiri tak benar-benar tahu ingin pergi ke arah mana. Hal itu membuat saya tak ingin sedikit pun mengecewakannya, sebab saya tak pernah merasa sebegitu dipercayanya oleh orang lain yang baru saya temui sesingkat itu.

Ketika itu juga, saya memutuskan merontokkan mimpi-mimpi usang itu dari bahu sebelum membuka pintu dan keluar dari ruangannya. Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, saya ingin bermimpi semuluk-muluknya setelah berbagai gonjang-ganjing ini. Saya ingin hidup dalam mimpi indah saya sendiri, yang tak akan saya sesali sekali pun harus saya usahakan sampai titik penghabisan, bukan hidup yang asal mudah dan banyak menyerah dalam perjalanannya. Dunia baru saya tumbuh tepat selepas saya meninggalkan ruangannya dan melalui lorong-lorong kelas menuju tangga ke lantai atas yang saya harap bisa membawa saya naik lebih tinggi lagi, bukan hanya sampai lantai 2 tempat ruang kelas saya.



Ditulis sehari selepas ulang tahunnya,
Selamat 55 tahun, Ibu Binawati
Semoga sehat & bahagia agar saksikan mimpi saya mewujud
Mimpi-mimpi itu akan terus tumbuh bersama raga saya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghamba

Bukannya takdir kita udah ditulis jauh sebelum ini? Sekali waktu, saya pernah sampai pada pertanyaan semacam ini dalam perbincangan tengah malam melalui GoogleMeet dengan beberapa orang kawan. Temu maya malam itu mulanya kami agendakan untuk berlatih sekaligus membahas beberapa soal ujian, lalu di- extend hingga larut demi menghibur salah seorang dari kami yang tengah putus cinta karena belakangan ini rupanya perasaannya tak berbalas, walaupun pada akhirnya kami jadi ngoceh ngalor-ngidul  sampai ke rencana hidup kami masing-masing usai tamat dari sekolah—di samping memberinya petuah soal cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Kemudian, sampailah kami pada topik jodoh yang lagi-lagi diinisiasi karena kawan kami itu masih belum bisa merelakan cintanya—yang pernah diusahakannya hingga menempuh ratusan kilometer dari perantauannya—yang baru kandas. Salah nggak, sih, kalau aku masih berdoa minta dijodohkan, walaupun mungkin takdirnya nggak begitu? Pertanyaan itu dilontarkan dengan sed...

Tutorial Pandai Matematika dalam Sekejap

... Kadang kita terlalu serakah, maunya semua dikuasai saat ini juga, tapi lupa kalau kita manusia. ... Jika kamu membaca postingan ini dengan mengira saya akan memberimu kiat-kiat rahasia agar bisa menguasai Matematika dalam waktu yang singkat, maka harus saya tegaskan bahwa kamu 100% keliru. Postingan ini tidak akan membahas siasat belajar yang tepat maupun amalan-amalan mistis yang akan membuat otakmu seketika ditempeli roh-roh cendekiawan ternama di masa lampau. Sebab, sama seperti banyak orang lainnya yang—secara terang-terangan ataupun tidak—mendeklarasikan permusuhannya kepada hal-hal berbau Matematika, saya pun belum mampu "membujuk" Matematika agar mau berkawan akrab dengan saya. Sama sekali tidak masuk akal. Karenanya harus saya akui, judul postingan ini memang terkesan agak clickbait . Tetapi walau  terdengar amat tidak masuk akal, suatu ketika saya pernah melontarkan hal tersebut sebagai gurauan kepada Bapak yang memang sejak muda banyak mengulik ilmu-ilmu perhitu...