Is writing just not for me?
Butuh waktu yang tak sebentar bagi saya sebelum pada akhirnya kembali mempublikasikan blog ini untuk diakses lebih banyak orang dan—bersamaan dengan itu—mempublikasikan tulisan ini sebagai unggahan pertama saya yang bisa dibaca secara luas.
Termasuk menyoal naskah-naskah cerpen dan novel karangan saya, blog ini juga mulanya menjadi salah satu hal yang masih saya tutup rapat-rapat selama beberapa tahun belakangan. Rasanya, saya masih belum siap untuk membiarkan karya-karya saya dengan mudahnya disebarkan, disalahartikan, dikritik, atau dijiplak orang lain secara bebas di internet.
Sebab, sejak awal saya menulis tidak lain untuk menjadi 'teman' bagi diri saya sendiri. Bukan untuk mendapat harta materi, popularitas, maupun kekuasaan jabatan.
Tetapi nyatanya membatasi karya saya untuk diakses orang lain juga berarti membatasi kesempatan bagi orang lain untuk menikmati, mengenang, atau menemukan tilikan baru dari karya-karya saya. Baru saya sadari bahwa dengan membiarkan orang lain turut menikmatinya, barangkali tulisan saya bisa menjadi 'teman' bagi orang lain pula.
Maka dengan alasan—yang sama banyaknya dengan alasan saya menyembunyikan karya saya dahulu—itu, saya akan secara bertahap mempublikasikan kembali tulisan-tulisan lama saya semata-mata untuk diabadikan di blog ini—tentunya setelah menyelesaikan beberapa perbaikan di dalamnya.
Sama seperti manusia pada umumnya yang memiliki keserakahan atas kenikmatan dunia dan berharap semua yang mereka miliki saat ini akan abadi, saya pun takut akan datangnya kematian. Saya pun tak ingin bila nikmat fana dunia ini dicabut tatkala ajal saya datang. Karenanya, walau saya tak mungkin hidup ribuan tahun lamanya, setidaknya karya-karya saya akan abadi. Kendati itu berarti saya harus mempersilakan semua orang yang datang dengan niat baik maupun buruk untuk membaca.
Bagi amatiran seperti saya, penolakan-penolakan yang datang atas karya yang kita upayakan sungguh-sungguh adalah sebuah mimpi buruk. Dikhianati sesuatu yang selama ini kita cintai sepenuh hati tentu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. That's all I had left. Hanya menulislah satu-satunya hal yang bisa saya banggakan dari diri saya, dan waktu itu—ketika lagi-lagi yang bisa saya terima dari hasil karya saya adalah penolakan—sebuah pukulan yang amat keras seakan telah menjatuhkan harga diri yang susah payah saya bangun bertahun-tahun.
Tetapi rupanya—usai bertahun melekat pada saya—menulis telah menempati begitu banyak ruang di hati saya, sampai-sampai luka yang timbul dari penolakan-penolakan akan karya-karya saya bukan lagi apa-apa dibanding ruang yang masih tersisa. Akan selalu ada ruang yang tersisa bahkan ketika menulis memberi banyak luka di hati saya, karena dengan menulislah luka itu pada akhirnya akan pulih. Lalu terluka lagi, lalu pulih lagi, dan begitu seterusnya.
Andai menulis digolongkan sebagai narkotika, mungkin saya sudah sejak lama membusuk dalam bui. Adiksi saya terhadap menulis tak mungkin dihilangkan, sekeras apapun saya berusaha melupakannya, pada akhirnya saya akan terus kembali untuk menulis. Meski saya masih teramat membenci soal-soal uraian pada lembar ujian yang mengharuskan saya mengarang dalam waktu singkat, meski nilai Bahasa Indonesia saya tetap tak bagus-bagus amat, dan meski karya saya tak sekali pun lolos dari seleksi lomba maupun penerbitan.
Bertahun-tahun lalu, ketika menulis masih sekadar 'main air' bagi saya, tak jarang saya akan pergi begitu saja bila sapuan ombak terlihat akan menimpa saya. Tetapi ketika telah tenggelam di dalamnya, paru-paru saya seakan telah penuh dan hanya dengan paru-paru yang penuh itulah saya bisa bernapas. Menulis nyatanya merupakan kacamata yang sejak lama saya cari, hanya saja tak saya sadari bahwa kacamata itu sudah bertengger di atas kepala saya selama ini.
Saat itu, saya hanya melihat menulis sebagai permainan-yang-bisa-dimainkan-ketika-terasa-menyenangkan-dan-dibuang-begitu-saja-ketika-tak-lagi-menyenangkan. Dan yang saya perlukan untuk menemukan kacamata itu rupanya dengan tak takut membiarkan diri saya jatuh lebih dalam, dengan begitulah saya bisa tahu kacamata tersebut sebetulnya sudah ada di depan mata saya dan bisa saya gunakan.
Teruntuk engkau yang mungkin bertanya-tanya "Is writing just not for me?" karena belum bisa melahirkan mahakarya, karena tak juga menerima apresiasi yang setimpal, atau karena batu-batu sandungan lainnya di sepanjang perjalanan, ketahuilah: Segala hal masih bisa terjadi selama kau tak menghilang dan terus menulis. Mungkin kau hanya perlu memberanikan diri untuk 'ditenggelamkan', jadi bersiaplah.

Komentar
Posting Komentar