![]() |
Urip kuwi pancen sawang-sinawang, Nok.
Menghabiskan beberapa tahun bersekolah di kaki Gunung Ungaran mengajari saya banyak hal, salah satunya Bahasa Jawa beserta segala unsur kebudayaannya. Lalu, apa maksudnya "sawang-sinawang"?
Makna "Sawang-sinawang" dalam Bahasa Jawa
Ujaran "sawang sinawang" berasal dari kata sawang yang bermakna 'pandang' sehingga secara harfiah sawang-sinawang diartikan sebagai pandang-memandang atau saling pandang.
Dalam hal ini, yang dimaksud saling pandang bukanlah saling bertatap mata. Sawang-sinawang lebih umum digunakan sebagai ungkapan yang menjadikan kata pandang pada ungkapan tersebut tak bisa dimaknai mentah-mentah karena mengandung konotasi 'memandang dengan pandangan yang sarat akan hasrat, terlebih pada kehidupan yang orang lain jalani'.
Menemui "Sawang-sinawang" dalam Kehidupan
Sebagai contoh bila kalimat saya sebelumnya masih terasa membingungkan, kamu mungkin pernah menemui masa ketika hidupmu terasa teramat tidak beruntung karena hidup tak mengabulkan ekspektasimu. Di waktu yang sama, kamu menemui orang lain yang hidup sebagaimana kamu ekspektasikan selama ini dan memandangnya penuh hasrat.
"Betapa beruntungnya dia dalam hidup, andai saja aku bisa hidup sepertinya pastilah akan menyenangkan." Kemudian, tanpa sadar memimpikan hidup yang jelas-jelas bukan milik kita. Dan semua ini dimulai dari sepercik ketidakpuasan akan hidup yang kita jalani.
Namun, Betulkah Hidup Kita Selalu Seburuk Itu dan Hidup Orang lain Selalu Seberuntung Itu?
Melihat kembali pada arti kata sawang-sinawang, hal tersebut terjadi ketika kita saling melempar pandangan kecemburuan yang sama terhadap hidup masing-masing. Dengan begitu, artinya di sisi lain kita pun dipandang lebih beruntung oleh orang lain. Namun, mengapa rasanya hidup kita selalu seburuk itu?
Menilai hidup tak cukup bila hanya di-sawang. Sama halnya seperti makanan yang tak cukup bila hanya dipandangi: perlu pula dihidu, dicicip, dan dinikmati untuk mengetahui kualitasnya. Karena itulah, hidup mereka yang kita pandangi terlihat amat sempurna. Ada sisi-sisi lain yang tak bisa kita ketahui hanya dengan melihatnya. Sementara itu, hidup kita sendiri justru hanya bisa kita rasakan, sebab kita tak bisa melihat ke dalam diri sebagaimana orang lain yang hanya memandang penuh iri dari luar. Namun, sebelumnya saya tak pernah menyadarinya—setidaknya sampai komentar-komentar konyol saat sesi belajar pada suatu malam di akhir Oktober lalu menyeret paksa akal sehat saya setelah lama tenggelam dalam rasa rendah diri. Sebab beberapa tahun belakangan rasanya amat menjengkelkan dan terlalu besar untuk terjadi sedini ini dalam hidup: gagal dan tertinggal dalam melanjutkan pendidikan, temuan massa yang diduga tumor dan diagnosis-diagnosis mengejutkan lainnya, sampai kerugian finansial pascapensiun. Menyaksikan orang lain menjalani hidupnya senormal itu rasanya seperti memimpikan hidup yang bahkan tak pernah jadi milik saya.
Suatu malam di kelas daring persiapan UTBK, jawaban try-out dikoreksi dan diumumkan tepat sebelum kelas berakhir. Saat itu pengajar kami menjanjikan hadiah bagi mereka yang bisa menjawab benar paling banyak dengan waktu pengumpulan paling cepat, tetapi saya amat tak peduli menyoal apa hadiahnya ataupun bagaimana hadiah itu akan diberikan—mengingat kelas ini dilaksanakan secara daring.
Nama-nama yang terdengat familier muncul sebagai penerima kedua dan ketiga, saat itu pulalah kolom komentar ruang rapat daring kami dipenuhi ucapan selamat dan pujian yang begitu ramainya. Kemudian, nama terakhir disebut sedikit ragu-ragu: Ocha. Barangkali memang karena lupa, atau memang terlalu asing dan tak pernah terlihat di kelas selama ini. Seisi kelas bertanya-tanya siapa Ocha itu, bahkan saya belum juga sadar sebab sejak awal memang hanya memperkenalkan diri sebagai Ama di kelas. Lantas kolom komentar kembali penuh: bukan lagi dengan kata selamat, melainkan gurauan-gurauan seperti "Aku Ocha!" secara bersahut-sahutan—yang setelahnya memancing kegaduhan karena semua mendadak mengaku menjadi Ocha.
Ketika itu pula, tutor kami akhirnya merilis urutan nama beserta surel para penerima yang pada akhirnya membuat saya heran sekaligus merinding. Nama Ocha yang sejak tadi diributkan seisi kelas rupanya muncul dari penggalan alamat surel saya yang dibaca sekilas oleh tutor kami ketika mengoreksi jawaban. Makin menyadarinya, saya semakin merinding. Betulkah sebanyak ini yang berebut ingin menjadi saya ketika selama ini saya justru tak ingin menjadi diri saya sendiri? Mungkinkah nyatanya hidup kita tak selalu seburuk itu dan hidup orang lain tak selalu seberuntung itu?

Komentar
Posting Komentar